My Essay

   Adil dalam Bercinta Sekarang Juga !

 

Dunia Berbekal Cinta

Kehidupan manusia merupakan serangkaian perjalanan panjang dengan tujuan tak lain untuk mencari makna hidup itu sendiri. Ibarat pengembara yang mempersiapkan berbagai bekal dan perlengkapan yang mendukung perjalanannya, segala macam perlengkapan penunjang perjalanan hidup ini juga telah “dipersiapkan” untuk manusia yang terlahir di dunia. Kita memulai dan menjalani kehidupan dengan bekal yang tersedia sebagai fitrah yang nantinya akan mengalami interaksi secara kompleks dengan apa- apa yang ditemukan dalam hidup kelak. Sungguh sebuah proses yang luar biasa jika Kita sadari, perpaduan yang terjadi antara fitrah sebagai bekal awal kehidupan manusia dengan temuan berupa pengalaman dalam perjalanan hidup, secara langsung akan membentuk karakter dan kepribadian seorang manusia yang bersifat unique dan variatif.

Cinta dan kasih sayang merupakan bentuk fitrah manusia yang diberikan sebagai bekal dalam menapaki tiap detik kehidupan yang ada. Manusia yang tidak memiliki keduanya cenderung tak mampu berinteraksi dengan manusia lain, bahkan akan sulit memaknai perjalanan kehidupan yang telah, sedang dan akan dilalui. Cinta bersifat aktif, sehingga senantiasa memberikan kanvas tempat berekspresi dan menuangkannya kembali kedalam wujud perilaku sang penggagas ekspresi. Terkadang, Kita sebagai manusia sengaja menutupi kanvas dengan rasionalitas dan logika yang dialokasikan tidak pada tempatnya, sehingga perilaku yang muncul sebagai respon, menjadi bertolak belakang dengan ekspresi yang muncul karena fitrah cinta. Akibatnya, perilaku yang secara periodik dilakukan dapat menciptakan karakter dan kepribadian manusia, baik itu pribadi mulia ataupun buruk.

Ya, berawal dari bekal cinta dan kasih sayang lah dapat dihasilkan ekspresi yang mengejawantah kedalam perilaku, kemudian secara bertahap membentuk kepribadian anak manusia. Dalam hidupnya, manusia dapat memanipulasi segala kepribadian, perilaku serta ekspresi. Namun jika Kita mencoba memanipulasi fitrah cinta, sadar atau tidak Kita hanya menjadi pelaku penyebar kemunafikan terhadap eksistensi diri sendiri.

 

Makna Cinta dan Penyempitan Paradigma

Cinta memiliki definisi sangat luas, begitu pula dengan cakupannya. Keluasan dari makna dan cakupan cinta membuat aneka definisi yang tidak terbatas. Akal pikiran manusia kadang, yang membatasi definisi dan lingkup cinta itu sendiri, bahkan lebih dari itu, menjadikan menusia gagal untuk dapat mendefinisikannya.

Cinta merupakan sebuah ke-universal-an dunia. Apakah makna dari universal? Artinya harus ada pemerataan cinta di segala aspek kehidupan. Hal tersebut juga berlaku bagi perseorangan, bahwa cinta harus dibagikan secara merata. Jika ada cinta yang parsial diberikan kepada sesuatu, kemungkinan besar yang terjadi adalah ketidakadilan dalam bercinta.

Sejenak, coba kita renungkan kenyataan yang terlihat saat ini, definisi cinta dan kasih sayang dalam masyarakat umum bahkan kita sendiri seakan semakin menyempit dan terparsialkan. Banyak dari kita menonjolkan kasih sayangnya pada sebagian manusia atau pada unsur- unsur keduniawian lain dengan penuh kebanggan, dan mabuk kepayang karenanya, akan tetapi kita merasa tidak berdosa, meninggalkan banyak hal yang seharusnya juga memerlukan porsi cinta dari diri kita sebagai manusia sosial.

Jika lingkup serta hubungan cinta dengan aspek lainnya dalam kehidupan ini dikaji dan ditelaah, akan diketahui bahwa terdapat hubungan yang dekat antara tindak kriminalitas dengan keberadaan cinta yang bersifat parsial. Selama ini, banyak hal yang dapat dijadikan contoh tindak penyelewengan cinta. Contoh saja nepotisme, mencintai “kekeluargaan” namun tidak cinta keprofesionalan dalam pekerjaan. Ada juga manusia yang sangat mencintai pekerjaannya, namun cintanya parsial hanya untuk pekerjaan, lalu melupakan cinta yang juga harus diberikannya kepada keluarga. Contoh lain yang juga cukup familiar yaitu pada peringatan hari kasih sayang, ekspresi cinta seakan di”press” menjadi hanya di hari itu kemudian hilang entah kemana pada hari- hari yang lain. Inilah paradigma kita tentang cinta yang telah membudaya, sehingga banyak muncul kepekaan sosial yang tampil musiman.  Maksudnya, rasa kepekaan sosial yang menandakan cinta sering muncul sesaat, kemudian hilang cukup lama. Kepedulian dan rasa cinta akhirnya hanya tumbuh pada saat- saat tertentu seperti bencana alam, Hari Raya dan sebagainya. Menghadapi paradigma yang telah menghasilkan karakter dan budaya seperti ini, maka diperlukan kesadaran bahwa pencurahan kasih sayang bukanlah sekedar hak, namun juga merupakan kewajiban manusia sebagai makhluk sosial. Kewajiban untuk mencurahkan cinta dan kasih sayang secara universal, menyeluruh kepada manusia segala bangsa dan lingkungan dunia. Paradigma pemikiran tentang cinta dalam masyarakat, kerabat dan sahabat, bahkan diri kita sendiri perlu dievaluasi, dan jika setuju perlu diluruskan.

 

Produktif melalui Cinta

Nurani ini cenderung mengatakan bahwa cinta merupakan akar dari kehidupan, kepedulian, dan kemanusiaan. Ketika jiwa telah tersirami cinta, maka akan hidup dan tertanamlah kepedulian pada apa yang dicintai. Pada akhirnya, Kepedulian akan menjadi Hulu dari sungai kemanusiaan. Memang, cinta dan kasih sayang bukan hanya ada pada manusia. Makhluk lain seperti hewan misalnya juga memiliki cinta dan kasih sayang terhadap sesama yang bahkan dapat mengalahkan cinta dan kasih sayang manusia kepada sesamanya saat kita gagal memaknai cinta. Namun, suatu hal yang dapat memberikan ciri khas cinta manusia sehingga mampu menanamkan nilai- nilai kemanusiaan adalah hasil pemikiran kita terhadap cinta yang tertuang dalam perilaku produktif dan berguna bagi semua elemen yang berhak dan wajib dicintai. Perilaku produktif ini timbul karena efek cinta yang telah mendarah biru hati manusia.  Struktur cinta yang terbangun akan memberikan ruh keikhlasan dan semangat yang luar biasa dalam berbuat. Lalu, seperti apakah perilaku produktif yang timbul karena cinta? Kita ambil sebuah contoh, perilaku yang sadar zakat dan senantiasa ber sodaqoh karena telah tertanamnya rasa cinta dan keikhlasan dalam hati masyarakat, jika berlangsung secara teratur pada masyarakat bangsa ini, akan memperbaiki kepekaan sosial sesaat yang telah membudaya, dengan cara yang tergolong praktis. Zakat digunakan sebagai media peningkatan produktivitas masyarakat, dan juga sebagai alat yang mempermudah pemerataan kasih sayang dan cinta. Terlepas dari sudut pandang ajaran suatu agama, zakat merupakan aplikasi dari cinta yang produktif. Selain hal diatas, penerapan makna cinta sering diselewengkan hanya dalam ruang lingkup untuk sesama manusia saja. Padahal keuniversalan cinta harus juga melingkupi cinta terhadap lingkungan hidup dan alam. Manusia hidup dengan segala ketergantungannya pada alam. Sehingga sudah sepatutnya manusia membalas jasa sebagai tanda cinta dan terima kasihnya. Seseorang yang memilki cinta, akan berusaha melakukan hal sekecil apapun yang dapat membahagiakan yang dicintainya.  Begitu pula jika Kita mencintai lingkungan alam, sekecil apapun perbuatan kita, akan dilandasi pada penjagaan dan peningkatan kualitas lingkungan alam. Perilaku mencintai lingkungan akan berujung pada upaya- upaya yang dapat menyingkirkan bencana atau bahaya besar. Kejadian seperti banjir, tanah longsor dan bencana lain yang banyak menimpa kawasan di negeri ini seharusnya dapat dijadikan pelajaran betapa masih belum pahamnya manusia bangsa ini tentang arti cinta. Sampah yang sulit untuk ditangani, pembakaran dan pembabatan hutan yang makin menjadi, perusakan dan pencemaran ekosistem adalah bukti bahwa bangsa ini sesungguhnya belum bisa bercinta. Artinya perlu dilakukan penyadaran makna cinta, sehingga kepekaan rasa manusia terhadap alam sebagai bukti tanda cinta dapat tertanam dan akan tercipta masyarakat yang produktif hasil dari kepedulian bersama yang terjaga baik. Kepekaan rasa ini, bila tertanam dalam manusia bangsa seluruhnya, bukan tidak mungkin akan meminimalkan bencana yang ada dan menjadikan alam di Indonesia lebih awet untuk masa depan, masih dapat dirasakan generasi depan sebagai bukti cinta kita kepada generasi mendatang. Manusia produktif adalah manusia yang mendedikasikan cintanya dengan sesuatu yang berguna. Produktivitas manusia tumbuh karena cintanya. Kita harus produktif dalam bercinta dan tidak bercinta secara parsial, karena akan menjadi tidak optimal bahkan dapat menghancurkan makna cinta itu sendiri. Terapkanlah nilai- nilai cinta tidak terbatas dan tidak bisa dibatasi oleh lingkup, ruang dan waktu tertentu.

 

Sekedar Penyelamatan Arsip

Sekitar Desember 2007

(Dibukukan dalam kumpulan Essay Lomba Produktif melalui Cinta berjudul “The Spirit Of Love”)

One response to this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: