Tweet bout our own History part 2

Di bagian sebelumnya, saya telah menulis ulang dari berbagai referensi, sedikit deskripsi tokoh HOS Tjokroaminoto. Dalam tulisan ini, saya akan coba menuturkan cerita tentang keterkaitan antara beliau dengan para pemuda kala itu, yang sekarang kita kenal dengan tokoh-tokoh pengisi sejarah bangsa.

Mulai dari Soekarno yang tumbuh bersama golongan nasionalis, Kartosoewirjo dengan ideologi Islam nya, hingga pemikiran Musso-Alimin yang condong ke komunis, pernah tinggal dalam sebuah rumah di gang Peneleh VII Surabaya, tak lain merupakan rumah Tjokro.

Tjokro, jiwa nasionalisnya tidak diragukan. Gambaran mengenai jiwa keislaman dan sekaligus faham sosialismenya terlihat jelas. Seperti kutipan dari tulisan berikut yang meresensikan pemikiran Tjokro di buku nya ” Islam dan Sosialisme”.


Dalam buku Islam dan Sosialisme, Tjokro menyuguhkan cara pandang sosialisme yang bertopang pada Islam: perikemanusiaan, persaudaraan, persamaan, dan kemerdekaan berdasarkan kekuasaan Allah. Lewat bukunya, Tjokro ingin mengatakan sosialisme bukan milik kaum komunis saja. Menurut dia, sosialisme Islam adalah “sosialisme yang wajib dituntut dan dilakukan oleh umat Islam, dan bukan sosialisme yang lain, melainkan sosialisme yang berdasar kepada asas-asas Islam belaka. Tjokro mengajukan argumen bahwa ajaran Islam tidak jauh dengan apa yg disebut oleh Karl Marx dengan “meerwarde” (nilai lebih) yaitu riba dalam Islam, dan itu dilarang keras oleh agama Islam. Tjokro hendak meyakinkan soal penolakan yang sama antara Islam dengan kaum komunis terhadap kapitalisme”.

(Bonnie Triyana,08/11)

Soekarno, Sang Proklamator, anak kos yang tinggal di rumah Tjokro demi melanjutkan sekolah ke HBS, tak lepas dari pengaruh pemikiran dan pandangan Tjokro. Dari Tjokro, Soekarno belajar tentang pergolakan dunia. Sumber ilmu Soekarno muda tersedia di rumah itu, mulai dari buku-buku sosialis dari mancanegara, majalah terbitan luar negeri, hingga tokoh-tokoh yang sering berlalu lalang ke rumah Tjokro menjadikan Soekarno bebas menyerap pengetahuan, semangat revolusi dan anti kolonialisme.

Kisah yang tak kalah menariknya adalah tentang Musso yang khas dengan keras dan tegas dalam ideologi komunisnya. Juga tentang Kartosuwirjo yang memilih untuk “berpolitik” atas nama agama, berkelana jiwa dan pikirannya ke seantero penduduk Jawa barat, bahkan nusantara.

Posted from my heart

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: