Ironi Kemiskinan di Tanah Surga


“Kata orang tanah Kita tanah surga, Tongkat Kayu dan Batu jadi tanaman..”

Kisah ironis terjadi pada negeri ini, Indonesia. Tanah, lautan dan segala sumber daya alam yang dimiliki, merepresentasikan surga segala kekayaan dan keistimewaan yang ada di dunia. Namun, ibarat tikus yang kelaparan di lumbung padi, masalah demi masalah melanda kehidupan manusia Indonesia. Kemiskinan serta Kelaparan terjadi di berbagai wilayah bak gaung menyambut. Di berbagai daerah, saudara kita kelaparan, melewati hidup dengan ketakutan serta ketidakmampuan bahkan untuk bermimpi sekalipun. Tempat tinggal, pendidikan serta segala fasilitas yang seharusnya menjadi hak setiap Warga Negara, sering tak terbeli. Belum lagi permasalahan struktural dan kultural yang juga menekan kehidupan. Segala permasalahan tersebut pada akhirnya dapat melahirkan keputusasaan yang memberikan godaan besar bagi masyarakat untuk mengakhiri hidup secepat mungkin.

Kelaparan dan kemiskinan tidak hanya terjadi di daerah tertentu yang memang miskin kualitas sumber daya. Permasalahan ini terjadi juga di kota- kota besar, bahkan di daerah- daerah yang memiliki sumber daya alam yang mumpuni. Suatu hal yang sungguh ironis. Pokok permasalahan sebenarnya bukan dikarenakan kualitas daerah yang kurang mencukupi dalam hal pemenuhan kebutuhan penduduk, ataupun aliran dan suplai sumber daya yang tersendat karena daerah tersebut terpencil. Buktinya, permasalahan kemiskinan, kelaparan dan sebagainya juga ada di kota besar, daerah kaya, bahkan mungkin di tetangga perumahan mewah sekalipun.

Sebuah era baru dunia, dimana kemajuan teknologi dan arus globalisasi yang diciptakan untuk memanusiakan manusia, ternyata malah menyeret manusia Indonesia menjauh dari prinsip dan nilai kemanusiaan. Pengetahuan dan teknologi modern telah menggeser harkat kemanusiaan kearah kesenjangan. Akhirnya entah dirasa siap atau tidak, efek yang terjadi yaitu keadaan yang kaya akan semakin kaya, sementara yang miskin semakin miskin, terus terjadi bahkan secara turun temurun.

Solusi untuk Bersama

Permasalahan negeri ini adalah ketidakmampuan untuk men-sinergis-kan semua kemajuan ilmu serta teknologi dan perubahan peradaban, dengan kepribadian serta karakter bangsa. Nilai dan budaya bangsa menjadi rapuh dan mudah koyak, sehingga tercipta beberapa efek samping antara lain berupa kemiskinan.

Kemiskinan di negeri ini dikhawatirkan akan terus bertambah dikarenakan pengaruh tiga hal fundamental yang tengah mengguncang hajat hidup rakyat banyak. Ketiga hal ini sangat mempengaruhi kelangsungan sebuah pemerintahan bahkan Negara keseluruhan. Ketiga hal tersebut antara lain hal ketahanan pangan , ketahanan energy dan ketahanan financial ( perputaran uang ). Artinya, untuk menanggulangi permasalahan kemiskinan dan kelaparan bukan hanya menggunakan bantuan jangka pendek, melainkan juga dengan penataan sistem yang menjadi akar pemiskinan. Ketahanan pangan yang rapuh bisa jadi disebabkan karena proses penyediaan pangan yang sering diremehkan. Penerapan teknologi pertanian harus dibimbing ke arah manajemen pertanian agar memberi kontribusi positif bagi pemantapan dunia pertanian. Teknologi tepat guna yang telah dihasilkan, akan dapat mengubah paradigma masyarakat terhadap petani, yang sering diidentikkan sebagai golongan bukan pengenyam pendidikan tinggi. Selain itu, problem diversifikasi seta distribusi pangan yang lamban juga harus dibenahi merata di seluruh Tanah Air.

Hal mendasar lain yaitu permasalahan ketahanan energi. Listrik, air, bahan bakar, dan segala sesuatu yang menjadi hajat hidup orang banyak harus dikelola negara dan dipergunakan untuk keperluan rakyat secara bijaksana. Sumber- sumber energi yang ada sebijak mungkin dihindarkan dari segala bentuk monopoli yang bersifat oportunis karena dikhawatirkan akan menekan kehidupan rakyat. Pencarian energi alternatif harus dikelola agar tidak berebut bahan baku dengan penyediaan kebutuhan pangan.

Dalam hal ketahanan keuangan, harus dibangun fundamental ekonomi yang kokoh. Dengan tingkat menabung (saving) yang cukup tinggi di dunia, sekitar 37% jelas menandakan negara bukan kekurangan uang. Namun permasalahan keuangan terjadi lebih dikarenakan terdapat kesalahan pengelolaan uang. Arus perputaran uang kurang menyentuh mikroekonomi. Sektor yang berhubungan langsung dengan penguatan ekonomi rakyat sering terabaikan. Kredit yang disalurkan kepada penduduk miskin dan usaha kecil dan menengah (UKM) sering dianaktirikan.

Lebih dari semua hal diatas, diperlukan adanya kesadaran setiap anak bangsa untuk bersama bergerak dalam mengatasi permasalahan yang ada. Kita harus lebih peduli dan memiliki hati nurani dalam kehidupan. Kita Adalah Bangsa Besar, Manusia yang ada harus mengedepankan nilai – nilai kemanusiaan dan memiliki hati nurani untuk saling membantu dan bergerak bersama.

(penyelamatan arsip)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: