Istirahat Sejenak (Sebuah kisah)

Bau busuk selalu ada pagi, siang malam. Orang sering berkata bahwa udara pagi itu segar dan sehat. Tapi tidak disini, Obet merasakan sesuatu yang berbeda. Pagi hari lebih dingin memang, tapi hidung Obet tidak pernah merasakan segarnya udara pagi di tempat pembuangan sampah akhir ini. Baginya, perkataan banyak orang itu hanya kebohongan agar semua manusia bangun pagi. Hidung Obet telah merasakan aroma sampah sejak 11 tahun lalu, saat dia lahir. Bisa jadi tangisan pertamanya bukan karena haus atau yang lainnya, tapi karena bau busuk sampah. Pagi itu Obet mengais sampah dengan temannya Nurdin. “Ayo, pagi- pagi begini, truk sampah sudah banyak yang datang!” Seru Nurdin lantang sampai- sampai tukang nasi uduk dibuat kaget. “Tunggu dulu, keranjangku jebol ”, kata Obet. “Kardus dan botol kamu nanti dimasukkan ke keranjang saya saja!” Potong Nurdin. Baik hati sekali rupanya si Nurdin, tapi Obet trauma, “Ah kemarin waktu barang kita satu keranjang, kau bagi uangnya tidak adil”. Akhirnya Obet terpaksa membawa karung goni yang dia pungut kemarin.

Belasan manusia dengan keranjang besar dipundaknya bukan untuk memetik teh di perkebunan tentunya, telah menunggu dibelakang truk yang sedang menurunkan ratusan kilo sampah, entah dari mana datangnya. Jakarta, ini kota besar, penduduk banyak, sampah yang dibuang pasti juga melimpah. Dibuang bagi banyak warga kota, berarti juga diterima sebagai rezeki bagi jenis manusia lain seperti Obet. Para pemulung rela meninggalkan segarnya desa, mencium busuknya udara di Jakarta hanya karena buaian mimpi- mimpi optimistis namun tak realistis. Orang- orang seperti ini banyak menjadi saingan Obet dalam mengumpulkan kardus dan botol air mineral. Juga pada hari itu, panen besar entah karena sedang musim hajat dan pameran atau apapun, yang jelas truk di depan Obet membawa botol air mineral yang membanjir dan karton kardus menumpuk rapat. Belasan orang bergembira, dan inilah hadiah besar untuk 1 hari hidup ini. Tanpa ada aba- aba, semua langsung memulai evakuasi kardus dan botol air mineral. Si kecil Obet yang biasanya selalu kalah bersaing dengan orang- orang tua, hari ini terlihat leluasa memungut sampah- sampah yang ada, tentu dengan karung goni yang dia bawa. “Bet, itu kardus banyak, ayo ambil!” Perintah Nurdin. Obet tak menghiraukan karena lebih memilih botol air mineral untuk karung goninya. Pagi itu, cakrawala menampakkan harapan akan hari dan mimpi yang cerah, waktu dimana jutaan manusia memulai aktivitas dan kesibukan, ke kantor, sekolah, tidak terkecuali Obet yang sibuk dengan paginya. Sampah yang semakin beragam merupakan penambah wawasan ilmu bagi Obet, juga mengais barang- barang yang masih berharga, inilah bisnisnya, mendapatkan sesuatu yang menarik, seperti buku bacaan, mainan dan perkakas rusak, adalah bonus penghasilan yang ia nantikan.

“Bet, kita timbang dulu yuk, untuk makan siang” Ucap Nurdin yang sudah lapar karena tidak sempat sarapan pagi. Sarapan pagi, kata- kata yang jarang didengar mereka berdua. Omelan Ibu Obet karena si Obet kesiangan bangun atau apalah perkara remeh yang membuat ibunya punya alibi untuk memukul, Itulah sarapan pagi Obet. “Ayo, tapi setelah itu aku mau pulang ke rumah dulu.” kata Obet yang teringat pesan ibunya untuk makan siang di rumah. Ibu, sejahat apapun dunia dan seburuk apapun prilakumu, kau tetap manusia paling baik untuk anakmu, pikiran itu yang ada di hati Obet, walaupun otaknya juga tak sampai, untuk membuat kalimat puitis ini. Mereka berdua berjalan sambil iseng satu sama lain, badan mereka saling beradu, sambil cengengesan tertawa. Kejailan itu cukup untuk mengantarkan mereka ke tempat penukaran kardus dan botol plastik air mineral. Sambil memberikan karung goni yang dia bawa, Obet terus menatap jarum timbangan. “Takut dicurangi” Obet berfikir dalam hatinya. Otak seorang pemulung seperti Obet, walau masih anak- anak, pasti punya prasangka seperti itu. Kertas dan recehan yang banyak disebut uang oleh manusia, telah ada di genggaman Obet yang akhirnya pulang ke tempat idamannya, walau hanya tambalan triplek dan seng yang disatukan, tapi itulah rumah Obet sejak lahir mungkin.

Ning, adik Obet dan Mak-panggilan Obet untuk ibunya- melongok ke arah Obet yang tiba- tiba menanyakan sesuatu yang sudah lama tak Obet tanyakan. Mak, apa Obet benar tak punya Baapak? ”Punya namun tak layak disebut Bapak” hati Mak berkata pada diri sendiri. Bapak macam mana yang menyentuh anaknya saja belum pernah. Lalu, Mak hanya menjawab dengan segenggam nasi yang dilemparkan ke sesuatu mirip piring dan menyodorkan ke depan kepala Obet.

“Bet, mana buku komik yang aku pinjamkan ?” Nurdin menanyakan komik hasil temuannya di tempat sampah minggu lalu. Obet yang tak mengerti dengan tulisan yang ada dalam komik itu, hanya senang melihat gambar yang ada, mencoba mengelak “Rumah aku kebocoran tadi malam, komiknya kebasahan dan sobek- sobek ”. Air hujan telah difitnah oleh Obet, hanya karena gambar yang ada dalam komik itu, belum semua dia lihat. “Yah, Obet, pokoknya harus ganti!” bentak Nurdin yang lebih tua setahun dari Obet. Sambil berjalan, Obet dan Nurdin saling berdebat masalah komik, sampai akhirnya langkah pulang mereka terhenti oleh orang yang jarang mandi, yang berpakaian trendy tapi serba kumal. Kaos oblong yang dipakai Nurdin ditarik dan dicengkram. “Duit,……. Mana duit elu –elu pada? Serahin sini!” bentak preman yang masih puluhan tahun itu. “Nggak, ada bang, kita ga punya uang”aku Nurdin. Si preman membalas dengan bentakan yang lebih sangar “Mo coba bohongin Gue, barusan Gue lihat elu pada habis nimbang kardus ma botol. Elu mau gue hajar sampe mampus, ha ”. “Nggak bang, ni uangnya bang” jawab Nurdin. “Segini! Jangan bohong lo!”. “Nggak ada lagi bang, sumpah bang ” jawab Nurdin dengan gemetar. “Eh, kalau elu mana?”. Pinta preman ke Obet. “Nggak ada bang, ini uang Emak, Obet ga mau ngasih ke Abang!”. “Eh, berani ngelawan lu ya, gue hajar lu”. Beberapa detik kemudian terdengar suara tamparan dan pukulan benda tumpul melayang ke tubuh Obet. Uang yang dia bawa diambil paksa oleh si Preman. Obet pulang dengan tangisan, begitu juga Nurdin, malah lebih kencang suara tangisannya. Sampai rumah, ibunya Obet bertanya kepada Obet “Kenapa Bet ?”. “Uang dari tadi mulung, diambil preman Mak”. “Sialan tuh preman, emang uangnya berapa banyak Bet?” Tanya ibunya lagi. “Belum sempat ngitung Mak, huk…hkk….” Jawaban Obet diselingi tangisan yang masih tersisa. Dalam pikiran Emak terbersit perasaan kasihan kepada Obet, selain uang hasil kerjanya diambil preman, ditambah dua hal yang pasti membuat hatinya menjadi miris terhadap anaknya. Dua hal ini adalah sesuatu yang sangat berharga bagi Obet.

Malam hari Obet makan dengan lahapnya. Lauknya telur ayam rebus yang dibagi dua untuk dia dan adiknya. Sambil makan Obet menanyakan kepada ibunya, tentang tidak adanya sekolah tadi sore. Ya, disekitar tempat tinggal Obet memang ada sekolah khusus untuk anak- anak pemukiman kumuh, yang didirikan oleh salah ssatu LSM. Mereka tidak memungut biaya kepada anak- anak yang ingin mengikuti sekolah itu. “Bet, tadi pagi, pak guru Obet yang biasa ngajarin Obet baca, kesini dan ngasih tahu kalau sekolah dibubarkan ” Jawab Emak. “Emang, kenapa Mak” tambah Obet dengan kaget. “Pak guru dah nggak mampu lagi terus- terusan dimintain uang sama preman disini”. “Lagipula kasihan pak Guru, selalu kena masalah sejak mengajar disini”. Badan Obet langsung lemas. Betapa tidak sakit hati kepada preman, setelah uangnya diambil, kesempatan dia untuk bisa membaca juga mereka rampas. Padahal Obet sudah tak tahan diperolok teman- temannya karena tak bisa baca-tulis. “Bet, emak juga mau bilang kalau emak belum bisa beliin Obet sepeda, karena tabungan Obet yang untuk beli sepeda, Emak pakai bayar cicilan hutang”. “Beneran Mak”. “Emak, jahat sama Obet”. Teriak Obet yang benar- benar terpukul akibat perkataan ibunya. Kalau hanya tidak dapat bersekolah lagi, Obet tidak begitu terpukul. Namun hilangnya kesempatan dia mendapatkan sepeda merupakan sebuah pukulan telak dalam hidup anak ini. Berarti hilang juga kesempatan dia untuk menjadi tukang koran keliling. Akhirnya derita anak ini semakin komplit. Dia lampiaskan sakit hatinya dengan memejamkan mata di atas kardus tempat tidurnya. Malam semakin larut saat Obet tetap tidak bisa tidur walau sejak tadi memejamkan matanya. Waktu menunjukkan pukul dua pagi ketika Obet bangun dari tidurnya dan keluar rumahnya dengan tergesa- gesa. Obet mengambil pecahan botol yang tajam, dan segera berlari tanpa sepengetahuan ibunya. Tujuan Obet jelas, mengejar dan mencari sang preman yang biasanya sedang tak sadarkan diri akibat mabuk berat, dan tertidur di pos masuk Tempat Pembuangan Sampah akhir. Lari Obet ssemakin pelan seiring dengan semakin dekatnya dia dengan pos itu. Sampai pada saat jarak Obet dengan pos sudah dekat, baru terlihat sang preman benar ada si pos itu. Tetapi, Preman itu masih sadar dan berdiri walau mabuk. Nyali Obet tidak menciut. Obet mendatangi preman dan menantang berduel. Tantangan itu diterima si Preman. Anak usia 11 tahun membawa botol pecah yang tajam melawan preman puluhan tahun juga memegang botol minuman keras. Dapat dipastikan apa yang terjadi, Obet babak belur dengan pecahan botol menempel di pipi dan bahunya. Obet terjatuh, si Preman meludahi dan meninggalkannya. Obet pulang dengan sisa tenaga yang ada, dengan pecahan kaca yang masih belum dicabutnya. Rasanya sangat sakit, bertambah sakit dengan memar yang ada di sekujur tubuh Obet. Obet sampai di rumah dan mencari- cari apa yang dia pulung tadi pagi, dan dia bawa pulang. Sesuatu yang sangat berharga baginya, sebuah obat sakit hatinya dan mungkin obat penghilang perih luka- luka di sekujur tubuhnya. Ibunya masih tetap tidak terbangun dari tidurnya.

Pagi hari di rumah Obet, seperti pagi biasanya, pagi dimana pendapat banyak orang tentang datangnya kesegaran udara di saat itu, selalu tidak terbukti. Pagi yang membangunkan Emak, ibu Obet dengan penuh kekagetan lalu tergeletak lemas dengan tangisan histeris. Tangisan meratapi anaknya, Obet yang tergantung lemas dengan cekikan tambang di lehernya. Obet menggantung dirinya dengan seutas tali. Melayang tanpa memijakkan kaki ke tanah, dan dengan lidah menjulur keluar. Ya, Obet gantung diri dengan seutas tali tambang yang dia temukan. Seutas tali yang dapat menjadi obat baginya, obat penghilang sakit hatinya dan perih luka disekujur tubuhnya. Obet tidak mampu menahan lagi rasa kekecewaan dan sakit yang diterima. Obet putus asa……Ibunya tak kuasa menahan tangisnya pula karena tak sempat memberi tahu Obet kalau preman yang sering mengganggunya adalah ayah kandung Obet sendiri.

4 responses to this post.

  1. Posted by joice on October 21, 2008 at 4:49 am

    Zaki, gw link ya…

    Reply

  2. Posted by zakiaf on October 21, 2008 at 1:28 pm

    eh joice blog u ap?? link juga donk

    Reply

  3. Posted by joice on November 23, 2008 at 2:14 pm

    Ceritanya sedih banged Zaki….
    hiks… hiks… hiks…

    btw, lo gw tag di blog gw!
    buat info : di sini
    Wajib diisi!
    hohoho…

    Reply

  4. Posted by joice on November 24, 2008 at 12:09 pm

    zaki… ne joice…
    dah gw link…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: