Antara Sampah, Aku, dan Cinta Kita

Menjadi bagian dari Bumi

Perhatian Kita saat ini sering tertuju pada kebutuhan akan energi serta kekhawatiran atas kelangkaan sumber- sumber energi. Betapa tidak, sumber energi yang selama ini menjadi titik tumpu kehidupan, semakin bernilai tinggi, dikarenakan keterbatasan dalam jumlah dan penyediaan. Kebutuhan akan energi adalah sebuah keniscayaan yang akan terus meningkat seiring dengan laju pertambahan jumlah manusia. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka akan sulit melakukan pilihan selain meningkatkan eksploitasi sumber energi tak terbarukan yang selama ini menjadi sumber utama bangsa dalam memenuhi kebutuhan energi masyarakat. Eksplorasi, eksploitasi dan konsumsi sumber energi pun terus ditingkatkan, walaupun telah diketahui memberikan dampak besar dalam menentukan penurunan kualitas bumi selama ini. Akibat dari proses eksploitasi yang berlangsung terus menerus ,wajar jika akan semakin langka sumber energi yang ada. Produksi sumber energi khususnya energi minyak bangsa ini, terus mengalami penurunan. Tentunya akan semakin besar pula permasalahan yang berpengaruh pada kualitas lingkungan serta ekosistem bumi. Kita pada akhinya, menjadi semakin merasakan betapa berharganya sumber energi.

Perhatian yang lebih terhadap suatu permasalahan, akan menghasilkan gagasan dan ide- ide penyelesaian masalah yang ada. Begitu pula dengan perhatian masyarakat akan permasalahan energi dan hubungannya dengan penurunan kualitas bumi. Seluruh lapisan masyarakat memang merasakan meratanya dampak yang dihasilkan dari permasalahan ini, sehingga secara beriringan, mempromosikan penghematan energi dan pelestarian bumi. Masyarakat menjadi semakin giat meneliti dan mencari energi – energi alternatif yang ramah lingkungan dan mudah diproduksi. Beberapa penelitian juga telah menghasilkan teknologi yang efisien dan efektif dalam usaha mengurangi dampak kelangkaan sumber energi tak terbarukan serta perusakan bumi. Kesadaran ini menjadi terbentuk, dikarenakan kenyataan yang memang sudah dirasakan bersama. Artinya, setelah mengalami gejala serta permasalahan diatas, Kita sebagai makhluk berakal budi, akan cenderung berhasrat untuk memperbaiki keadaan, sebagai bagian dari usaha bertahan hidup. Dengan kata lain, permasalahan ini dapat dikatakan menjadi sebuah media untuk menghijrahkan sudut pandang pemikiran Kita, dari pemikiran bahwa manusia berada di luar system kerja bumi, menuju pola bahwa manusia merupakan bagian tak terpisahkan dari bumi. Meletakkan posisi menjadi bagian dari bumi adalah bentuk penjagaan Kita dari keserakahan dan keangkuhan, akar dari permasalahan sebenarnya.

Sampah, Keangkuhan dan Keserakahan yang merusak Bumi

Kehidupan manusia merupakan kanvas dimana segala keserakahan serta keangkuhan terlukiskan. Ungkapan tersebut telah teruji kebenarannya hingga kini dan mungkin terus terjadi pada masa mendatang. Karakter manusia identik dengan kecenderungan akan ketidakpuasan dalam melengkapi kebutuhan. Keserakahan manusia terbentuk dari hasrat yang lebih cepat ditangkap serta diaplikasikan manusia kedalam perilaku, dibandingkan dengan akal pikiran dan nilai kemanusiaan yang dimiliki. Perilaku serakah dalam hidup semata- mata terlahir dari pemikiran pragmatis untuk mengejar kesempurnaan hidup. Manusia akan semakin tidak mau ambil pusing dengan segala permasalahan karena hasrat yang sudah membelenggu. Pada akhirnya terlahir segala bentuk keangkuhan dan keegoisan, sebagai cermin dari pragmatisme manusia.

Pada dasarnya, definisi keserakahan manusia dalam kehidupan lebih dapat dikatakan sebagai upaya pelengkapan kebutuhan, dan bukan hanya sekedar usaha memenuhi kebutuhan. Manusia memiliki parameter relatif dalam menilai segala pelengkapan kebutuhan (baca : keserakahan). Sehingga segala sesuatu yang dikejar dalam upaya melengkapi kebutuhan, juga akan memiliki nilai dan harga variatif. Jadi, nilai tersebut akan berkurang atau bertambah bukan hanya terpengaruh ruang serta waktu yang melingkupi kehidupan manusia, melainkan bergantung juga dari ketidakpuasan manusia yang menginginkan atau telah memilikinya.

Berbicara mengenai bernilai tidaknya suatu benda bagi manusia, tak akan jauh dari topik sampah dan permasalahan yang ditimbulkan. Nilai suatu benda akan habis dan hilang tentu saja jika manusia merasa bahwa benda tersebut sudah tidak dapat memberikan manfaat untuk hidupnya. Namun kemungkinan tersebut bersifat relatif dan subjektif, tanpa parameter yang jelas karena hanya dinilai dengan perasaan serta hasrat manusia. Karena perasaan ini, manusia cenderung membuang jauh- jauh benda yang dianggap tidak berguna. Maka munculah definisi dari apa yang sering Kita sebut sebagai sampah. Setiap saat, manusia memasok sekian banyak sampah untuk bumi. Ya, laju produksi sampah juga mengalami peningkatan sebanding dengan peningkatan eksploitasi serta produksi kebutuhan manusia. Sampah telah lebih dulu dihakimi sebagai sesuatu yang sudah habis nilai dan manfaat bagi manusia yang membuangnya. Bumi pun tak siap menerima begitu banyak sampah yang dihasilkan dari tiap- tiap individu. Sampah kian menumpuk, cermin ketidakpastian.

Padahal, sumber energi yang diambil dan energi yang telah digunakan untuk menghasilkan benda- benda pemenuh kebutuhan manusia tersebut, bukan tidak seberapa. Sangat disayangkan jika nilai guna suatu benda dianggap atau disangka telah habis, maka akan berujung menjadi tumpukan sampah. Jika Kita sempat berfikir sejenak, cost energi yang digunakan untuk menghasilkan suatu benda, dan kerugian yang ditimbulkan setelah sebuah benda tidak terpakai, maka apakah sebanding dengan nilai guna yang diambil oleh manusia dari benda tersebut. Tentunya bukan hanya membandingkan dengan uang yang dikeluarkan dan diperoleh dalam proses produksi, karena terkadang uang akan menutupi hal besar lain yang lebih berharga. Energi- energi berbasis fosil yang digunakan untuk memroduksi kebutuhan manusia harus diperhitungan dalam kalkulasi rugi laba benda yang digunakan oleh manusia. Sayangnya, hal tersebut sering luput dari perhitungan manusia. Manusia seolah hanya berfikir bagaimana suatu benda pemenuh kebutuhan dapat tercipta, dan bagaimana membuangnya ketika dianggap sudah tidak memiliki nilai manfaat.

Hemat Energi dengan Mengelola Sampah

Manusia mana yang tidak menghasilkan sampah pada kehidupan saat ini. Sampah merupakan produk universal dari segala tingkatan manusia tanpa memandang status sosial dan budaya. Setiap individu ikut berkontibusi dalam mencemari bumi dan menipiskan sumber daya alam dan energi tak terbaharukan.

Bumi memiliki batas kapasitas, sebagai planet kecil di dalam luas ciptaan-Nya. Karena keterbatasan yang ada, maka segala sesuatu yang ada pada bumi juga memiliki batas. Minyak dan gas di dalam perut bumi yang selama ini menjadi sumber energi utama bangsa ini, juga terbatas. Begitu pula dengan elemen- elemen lain yang terdapat pada tubuh bumi, memiliki jumlah maksimal tidak lebih sebesar bumi yang ada. Jika sumber- sumber energi yang ada di bumi telah dieksploitasi maksimal, yang tersisa adalah sampah- sampah karena dianggap sudah tidak bernilai guna lagi oleh manusia. Yang masih perlu direnungkan adalah hubungan sikap hemat dengan budya serta prilaku dalam kehidupan sehari- hari manusia bangsa ini. Kita sering tidak hemat dan efisien justru pada kehidupan dan pekerjaan kecil yang dilakukan. Dengan membuang sampah, kita justru betindak tidak efektif dalam hidup, dan tidak efisien pula. Artinya, membuang sampah merupakan suatu jalan ringkas, namun bukan efektif dan lebih kepada prilaku pragmatis. Sampah seperti plastik misal, yang berbahan bakar minyak bumi misalnya, jika terus diproduksi tanpa adanya daur ulang maupun penanganan lain, justru akan merusak bumi. Manusia mengambil segala sesuatu dari alam, kemudian merusak alam dengan apa yang telah diambil.

Pengelolaan sampah mutlak harus dilakukan karena sangat berhubungan dengan penghematan energi dan kelestarian bumi. Banyak yang dapat dilakukan terhadap sampah yang ada, agar energi yang masih terkandung didalamnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber baru energi kehidupan. Paling tidak, hal kecil yang dapat dilakukan antara lain dengan mengurangi material yang digunakan dan berpotensi menjadi sampah cepat atau lambat. Dengan kata lain, kurangi produksi sampah. Alhasil, eksploitasi sumberdaya alam berkurang dan beban pencemaran dari sampah juga dapat diminimalisir. Hal lain dengan memanfaatkan kembali benda- benda yang masih dapat digunakan, dan mengelola dengan daur ulang atau memanfaatkan sampah menjadi barang lain yang bernilai. Prinsip pemanfaatan biomassa sebagai contoh pemanfaatan sampah organik, sampah dapur, air seni, bahkan isi septic tank yang dapat diambil biomassnya dengan cara fermentasi gas metana, juga terbukti sebagai suatu bentuk lain pengelolaan sampah yang dapat menghasilkan energi berupa listrik, panas dan juga kompos dari residunya.

Usaha pengelolaan sampah harus dilakukan secara berjamaah. Dibalik semua usaha masyarakat, sangat diperlukan juga adanya kebijakan dari pemerintah secara menyeluruh tentang pengelolaan persampahan ditingkat pusat maupun daerah. Bukan hanya kebijakan yang bersifat teknis dan berupa pencegahan saja. Kebijakan dapat berupa pengaturan clean production dan zero waste pada produksi. Sehingga tercipta produk-produk yang aman dalam kerangka siklus ekologis. Kebijakan pengelolaan sampah juga berarti perilaku menghemat lahan tempat pembuangan akhir (TPA). Lahan terbagi menjadi beberapa bagian dan dapat dipakai secara bergantian sehingga dapat bergantian pula ditutup serta dijadikan kawasan hijau.

Cukup sulit memang jika hanya sebagian dari Kita yang melakukan pengelolaan sampah. Sistem pengelolaan sampah harus dibangun secara menyeluruh dalam bentuk kerjasama pemerintah dengan masyarakat. Diperlukan adanya upaya upgrade system nilai dan budaya masyarakat kearah system yang lebih teratur dan bervisi. Dengan begitu, pengelolaan sampah menjadi suatu hal yang tidak rumit untuk dilakukan. Energi yang terkandung dalam bumi, termasuk dalam sampah yang Kita produksi, juga dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin. Mari Kita hindari segala keserakahan dan kemubaziran guna menghemat energi dan menyelamatkan bumi Kita.

3 responses to this post.

  1. Posted by secara on December 2, 2008 at 3:01 am

    Wah, menyentuh banget …!!
    Gak nyangka Zaki orang yang peduli lingkungan juga…!!!
    Bakat jadi dosen TL ente …

    Reply

  2. Posted by anna on July 26, 2009 at 3:34 am

    Oke juga

    Reply

  3. Wah, makasih ya informasi-informasinya. Sangat bermanfaat!!!!!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: