Analogi Gila (classic view)

Aku menikmati rasa baru ini. Mari kita bersama pejamkan mata dan rasakan… sudah?? Malam itu akan ada training pengembangan diri. Ada yang mengejar damri terakhir, menyusuri jalan setapak, mengejar makan malam murah edisi terbatas, menyimpan tenaga hibernasi sejenak, bengong, browsing, tilawah, chatting, baca, chatting, bcanda , n chatting lagi. Pengorbanan mereka pun tidak sia- sia, sang Trainer memberikan kunci kedewasaan. “Bahwa benar lingkungan membentuk kepribadian namun berlaku dengan syarat pribadi manusia tersebut masih belum dewasa. Keadaan tersebut menjadi tidak berlaku ketika manusia dewasa, sehingga kepribadian adalah segala pilihan yang diambil dan diri sendiri berhak menentukan pribadi seperti apa yang diinginkan seorang manusia dewasa, Itulah ciri kedewasaan” . Maka mereka tertidur tanpa sempat memikirkan sekilas maksud dari susunan kata yang terdengar indah barusan.

Mereka terbangun dan ternyata telah pagi. Segera mereka berkemas tanpa mandi, Berusaha membuat hari ini lebih baik dari sebelumnya, mencari esensi dan makna hidup yang mungkin lebih rumit daripada mencari sandal/ sepatu yang hilang. Berlarilah, angkot penuh, Segera temukan dan taruh esensi itu digenggaman tangan kalian. Pegang erat, karena di depan telah tercium busuknya dunia yang melebihi bau sebulan rendaman pakaian kotor kalian. Ingatkan pula teman kalian untuk membantu mengembalikan esensi itu, jika suatu saat terjatuh dari genggaman kalian. Karena disegala penjuru hidup Kita, sudah menunggu manusia berjiwa tikus yang lebih garang dari tikus peliharaan di pekarangan. Kita punya mimpi, cita- cita, dan idealisme yang harus kita tanam bersama di halaman rumah. Tebarkan benihnya, lalu kita pagari dengan jiwa raga kita bersama. Membentuk kesatuan pagar yang kuat, menjaga dari injakan kaki tak bertanggung jawab pada apa yang telah kita dan para pendahulu tanam, serta dari segala perilaku yang merusak halaman rumah ini.

Pagar yang menyatu kuat tentu akan rapuh setelah menahan beribu hujaman, dan akan membusuk dimakan usia. Satu persatu kita akan pergi dan satu persatu pagar tersebut hilang. Namun semoga idealisme itu tumbuh hijau di halaman rumah kita, bersemi serta berbuah manis. Sehingga jiwa- jiwa Befie, Bofie, Buffi, bangga menjadi bagian dari kalian. Mereka tersenyum karena raganya telah member nutrisi untuk suburnya halaman rumah kita. Ya jaga idealisme ini dengan pagar- pagar semangat. Demi rumah Kita , Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: