Analogi Gila

Jika terpikirkan, cinta memang punya stimulus dan selera. Menembus kulit dengan tiba- tiba, menyakitkan, indah. Itu hanya soal respon dari indra kita. Itu juga bila dan hanya bila terpikirkan.

Tetapi saat ini diriku menemukan analogi yang tepat, mungkin, tentang salah satu varian dari definisi cinta. Tetapi mungkin hanya berlaku disini, di tempat ini, pada momentum yang menunjukkan kekinian dan kedisinian.

Tiba- tiba terlintas pikiran bahwa Kita selalu punya cinta dan berhak menyemai cinta. Namun terkadang cinta tidak dapat terpetik, kita simpan dan kita bawa.

Cinta hanya bisa kita sapa dan kita ciumi wanginya. Seperti bunga Edelweis di padang surya Kencana ini, kita suka, namun tak dapat diambil dan miliki.

Ah bisa kita miliki, justru dengan membiarkan bunga itu tumbuh tanpa harus kita petik lalu dibawa pulang.

itu berarti kita memiliki cinta. Ah, berarti membiarkan dia bahagia, bersanding dengan ranting yang menjadi sandaran hidupnya, berarti juga pertanda cinta. Jika memang benar begitu, maka biarkanlah dia bahagia,jangan mengusik irama hidupnya.

Karena cinta tak harus memiliki.

SuryaKencana, Juli 2007

(penyelamatan arsip)

2 responses to this post.

  1. Posted by auliafeizal on July 11, 2008 at 6:46 am

    wah ternyata bang zaki puitis juga, Hehehe..
    ngelink blognya yah

    Reply

  2. Posted by zakiaf on July 11, 2008 at 9:29 am

    ok, sama juga bos ngelink yaa, salam

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: