Bau busuk selalu ada pagi, siang malam. Orang sering berkata bahwa udara pagi itu segar dan sehat. Tapi tidak disini, Obet merasakan sesuatu yang berbeda. Pagi hari lebih dingin memang, tapi hidung Obet tidak pernah merasakan segarnya udara pagi di tempat pembuangan sampah akhir ini. Baginya, perkataan banyak orang itu hanya kebohongan agar semua manusia bangun pagi. Hidung Obet telah merasakan aroma sampah sejak 11 tahun lalu, saat dia lahir. Bisa jadi tangisan pertamanya bukan karena haus atau yang lainnya, tapi karena bau busuk sampah. Pagi itu Obet mengais sampah dengan temannya Nurdin. “Ayo, pagi- pagi begini, truk sampah sudah banyak yang datang!” Seru Nurdin lantang sampai- sampai tukang nasi uduk dibuat kaget. “Tunggu dulu, keranjangku jebol ”, Read the rest of this entry »
Antara Sampah, Aku, dan Cinta Kita
October 19, 2008Menjadi bagian dari Bumi
Perhatian Kita saat ini sering tertuju pada kebutuhan akan energi serta kekhawatiran atas kelangkaan sumber- sumber energi. Betapa tidak, sumber energi yang selama ini menjadi titik tumpu kehidupan, semakin bernilai tinggi, dikarenakan keterbatasan dalam jumlah dan penyediaan. Kebutuhan akan energi adalah sebuah keniscayaan yang akan terus meningkat seiring dengan laju pertambahan jumlah manusia. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka akan sulit melakukan pilihan selain meningkatkan eksploitasi sumber energi tak terbarukan yang selama ini menjadi sumber utama bangsa dalam memenuhi kebutuhan energi masyarakat. Eksplorasi, eksploitasi dan konsumsi sumber energi pun terus ditingkatkan, walaupun telah diketahui memberikan dampak besar dalam menentukan penurunan kualitas bumi selama ini. Akibat dari proses eksploitasi yang berlangsung terus menerus ,wajar jika akan semakin langka sumber energi yang ada. Produksi sumber energi khususnya energi minyak bangsa ini, terus mengalami penurunan. Tentunya akan semakin besar pula permasalahan yang berpengaruh pada kualitas lingkungan serta ekosistem bumi. Kita pada akhinya, menjadi semakin merasakan betapa berharganya sumber energi. Read the rest of this entry »
Analogi Gila (classic view)
October 18, 2008
Aku menikmati rasa baru ini. Mari kita bersama pejamkan mata dan rasakan… sudah?? Malam itu akan ada training pengembangan diri. Ada yang mengejar damri terakhir, menyusuri jalan setapak, mengejar makan malam murah edisi terbatas, menyimpan tenaga hibernasi sejenak, bengong, browsing, tilawah, chatting, baca, chatting, bcanda , n chatting lagi. Pengorbanan mereka pun tidak sia- sia, sang Trainer memberikan kunci kedewasaan. “Bahwa benar lingkungan membentuk kepribadian namun berlaku dengan syarat pribadi manusia tersebut masih belum dewasa. Keadaan tersebut menjadi tidak berlaku ketika manusia dewasa, sehingga kepribadian adalah segala pilihan yang diambil dan diri sendiri berhak menentukan pribadi seperti apa yang diinginkan seorang manusia dewasa, Itulah ciri kedewasaan” . Maka mereka tertidur tanpa sempat memikirkan sekilas maksud dari susunan kata yang terdengar indah barusan.
Mereka terbangun dan ternyata telah pagi. Segera mereka berkemas tanpa mandi, Berusaha membuat hari ini lebih baik dari sebelumnya, mencari esensi dan makna hidup yang mungkin lebih rumit daripada mencari sandal/ sepatu yang hilang. Berlarilah, angkot penuh, Segera temukan dan taruh esensi itu digenggaman tangan kalian. Pegang erat, karena di depan telah tercium busuknya dunia yang melebihi bau sebulan rendaman pakaian kotor kalian. Ingatkan pula teman kalian untuk membantu mengembalikan esensi itu, jika suatu saat terjatuh dari genggaman kalian. Karena disegala penjuru hidup Kita, sudah menunggu manusia berjiwa tikus yang lebih garang dari tikus peliharaan di pekarangan. Kita punya mimpi, cita- cita, dan idealisme yang harus kita tanam bersama di halaman rumah. Tebarkan benihnya, lalu kita pagari dengan jiwa raga kita bersama. Membentuk kesatuan pagar yang kuat, menjaga dari injakan kaki tak bertanggung jawab pada apa yang telah kita dan para pendahulu tanam, serta dari segala perilaku yang merusak halaman rumah ini.
Pagar yang menyatu kuat tentu akan rapuh setelah menahan beribu hujaman, dan akan membusuk dimakan usia. Satu persatu kita akan pergi dan satu persatu pagar tersebut hilang. Namun semoga idealisme itu tumbuh hijau di halaman rumah kita, bersemi serta berbuah manis. Sehingga jiwa- jiwa Befie, Bofie, Buffi, bangga menjadi bagian dari kalian. Mereka tersenyum karena raganya telah member nutrisi untuk suburnya halaman rumah kita. Ya jaga idealisme ini dengan pagar- pagar semangat. Demi rumah Kita , Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.
Analogi Gila ver1.1
July 13, 2008Pesisir Pantai, irama angin dan gemuruh ombak laut selatan
Apakah pernah Kau rasakan,
ternyata tidak sesunyi dan semistis yang terbayangkan, walau malam sekalipun
Ya, malam di pantai adalah siang,
Kalau dilihat dari aktifitas yang terjadi, nelayan yang berangkat melaut, kuli panggul yang menunggu tiap perahu yang merapat di dermaga, dan pemborong yang berlomba- lomba ikut pelelangan ikan.
Lalu dimana ada kesunyian, ya, dihati mereka yang menghayati hidup. Nelayan, Kuli panggul, dan manusia yang menjadi bagian dari alam. Jadi bukan hanya mencoba memasuki irama atau siklus alam untuk menemukan kesunyian, bisa jadi malah didapat keseraman atau kesuraman. Analogi yang aneh !!
Pantai Laut Selatan (Prigi) , 3 Juli 2007
Analogi Gila
July 10, 2008Jika terpikirkan, cinta memang punya stimulus dan selera. Menembus kulit dengan tiba- tiba, menyakitkan, indah. Itu hanya soal respon dari indra kita. Itu juga bila dan hanya bila terpikirkan.
Tetapi saat ini diriku menemukan analogi yang tepat, mungkin, tentang salah satu varian dari definisi cinta. Tetapi mungkin hanya berlaku disini, di tempat ini, pada momentum yang menunjukkan kekinian dan kedisinian.
Tiba- tiba terlintas pikiran bahwa Kita selalu punya cinta dan berhak menyemai cinta. Namun terkadang cinta tidak dapat terpetik, kita simpan dan kita bawa.
Cinta hanya bisa kita sapa dan kita ciumi wanginya. Seperti bunga Edelweis di padang surya Kencana ini, kita suka, namun tak dapat diambil dan miliki.
Ah bisa kita miliki, justru dengan membiarkan bunga itu tumbuh tanpa harus kita petik lalu dibawa pulang.
itu berarti kita memiliki cinta. Ah, berarti membiarkan dia bahagia, bersanding dengan ranting yang menjadi sandaran hidupnya, berarti juga pertanda cinta. Jika memang benar begitu, maka biarkanlah dia bahagia,jangan mengusik irama hidupnya.
Karena cinta tak harus memiliki.
SuryaKencana, Juli 2007
(penyelamatan arsip)
Posted by zakiaf
Posted by zakiaf
Posted by zakiaf 
