Ketika Salman al-Farisi Melamar Wanita Anshar

September 15, 2009

Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abu Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasa dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.

Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan.. Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis.

Sumber: Salim A Fillah. Jalan Cinta Para Pejuang. 2008. Yogyakarta: Pro-U Media

dan http://faisalman.wordpress.com

Rinjani

Rinjani


Jadwal Pertandingan Euro 2008

June 4, 2008


Babak Kualifikasi 1

Group A

7 Jun 23:00 Swiss- Ceko
8 Jun 1:45 Portugal -Turki
9 Jun 1:45 Jerman -Polandia
9 Jun 23:00 Romania- Perancis Read the rest of this entry »


Gubernur Baru Jawa Barat dan Janji Kampanye

May 2, 2008

Rakyat Jawa Barat dan yang mendiami seluruh kawasan bumi Pasundan telah memilih Pemimpin mereka yang baru. Gubernur dan wakil gubernur yang baru untuk periode 2008-2013 telah terpilih. Beliau adalah Ahmad Heryawan yang menggandeng Dede Yusuf sebagai wakilnya, terbukti mengumpulkan suara terbanyak dari 2 kandidat lain. Apa yang mereka akan lakukan untuk Jawa Barat yang lebih baik, sebelum melihat apa yang mereka kerjakan pada hari- hari kedepan yang penuh amanah dari rakyat Jawa Barat, ada baiknya kita simak dan telaah kembali janji- janji mereka saat berkampanye, agar kita dapat saling nasehat- menasehati jika terdapat kelalaian. Mungkin juga agar kita sendiri tidak lupa oleh janji mereka.

Janji kampanye Ha-De

1. Mengakomodasi aspirasi pembentukan provinsi Cirebon

2. Kontrak Politik yng diajukan BEM se-Jabar Read the rest of this entry »


Pisang = Anak Laki- Laki

May 1, 2008

Ada artikel bagus yang sayya peroleh dari situs berita www.Antara.co.id Kira -kira seperti berikut

= bayi laki2
<!–
google_ad_client = “pub-8455753172918857″;
/* 160×600, created 1/31/08 */
google_ad_slot = “2784705341″;
google_ad_width = 160;
google_ad_height = 600;
//–>

24/04/08 11:59

“Makanlah Pisang Jika Ingin Anak Laki-laki”

Oleh Aditia Maruli

Sengaja bercinta pada bulan purnama, menghindari atau justru melakukan gaya tertentu saat berhubungan badan, banyak dilakukan pasangan yang ingin memiliki anak dengan jenis kelamin tertentu.

Mitos-mitos tersebut belum pernah dapat dibuktikan kebenarannya dari segi ilmu pengetahuan, namun satu tim peneliti membuktikan hubungan antara makanan sang calon ibu dengan jenis kelamin bayi dalam kandungannya.

Penelitian dari universitas Exeter dan Oxford itu menemukan bahwa perempuan yang diet rendah kalori dan tidak sarapan saat masa pembuahan, punya kemungkinan lebih besar melahirkan bayi perempuan.

Penelitian yang diterbitkan dalam suatu jurnal pada pertengahan pekan ini juga menyebutkan bahwa ibu dengan asupan energi lebih tinggi punya kemungkinan lebih besar untuk memiliki bayi laki-laki.

“Penelitian ini mungkin membantu untuk menjawab pertanyaan, mengapa di negara maju, dengan kaum perempuan muda yang umumnya diet rendah kalori, jumlah bayi laki-laki makin sedikit,” kata Fiona Mathews, pemimpin penelitian tersebut sebagaimana dikutip berbagai media dan situs berita.

Menghindari sarapan mungkin diterjemahkan tubuh sebagai isyarat rendahnya ketersediaan makanan sehingga membuat tubuh menekan kadar gula darah.

Jenis kelamin secara genetik ditentukan oleh sang ayah, dan diketahui pula bahwa kadar glukosa yang tinggi akan mendorong pertumbuhan serta perkembangan embrio laki-laki sekaligus menghalangi embrio perempuan. Hal yang belum jelas adalah mekanisme persis dari proses tersebut.

“Sang ibu sepertinya bisa mempengaruhi sperma atau sel telur sejak tahap awal, bahkan kemungkinan sebelum berada di rahim.” kata Mathews, peneliti dari Universitas Exeter.

“Kami juga bisa membenarkan dogeng ibu-ibu zaman dulu bahwa makan pisang hingga punya asupan potasium yang banyak ada kaitannya dengan mengandung bayi laki-laki.” lanjut Mathews.

Menurut dia, yang belum terbukti adalah mitos minum banyak susu agar punya bayi perempuan. “Bahkan sebaliknya, minum banyak susu berarti makin banyak kalsium masuk sehingga lagi-lagi kemungkinannya lebih besar memiliki bayi laki-laki.”

Mathews menyatakan tidak perlu membedakan energi yang didapat berasal dari karbohidrat atau lemak. “Yang penting, berapa jumlah kalori yang didapat.”

Mereka yang makan sekitar 2.200 kalori per hari memiliki kemungkinan punya bayi laki-laki 1,5 kali lebih besar dibanding calon ibu yang makan sekitar 1.850 kalori per hari.

Para ilmuwan memperingatkan para calon perempuan hamil agar tidak mengkonsumsi garam secara berlebih jika mengubah makanan mereka karena dapat membahayakan.

Jika ingin punya anak laki-laki, lanjut dia, makan sereal setiap hari dalam batas wajar serta potasium, kalsium, sodium secukupnya ditambah asupan protein, merupakan salah satu pilihan yang baik.

Mathews dan koleganya mempelajari 740 perempuan Inggris yang sedang hamil pertama. Para peneliti tersebut menemukan bahwa 56 persen dari kelompok yang tertinggi tingkat asupan energinya ternyata mengandung anak lelaki, sedangkan kelompok dengan asupan energi terendah, hanya 45 persen yang mengandung bayi lelaki.

“Perempuan yang mengandung bayi laki-laki juga lebih tinggi 300mg dalam konsumsi asupan potasium. Jadi makanan seperti pisang adalah baik,” katanya.

Sebagian peneliti sejak bertahun-tahun lalu telah memperingatkan adanya perubahan rasio jenis kelamin di negara-negara maju. Ketika itu yang dituding sebagai penyebab adalah polutan dan bahan kimia sintetis, misalnya beberapa pestisida, karena hal itu mengganggu hormon manusia.

Penelitian itu tidak menemukan bukti hubungan antara jenis kelamin bayi dengan kebiasaan merokok atau minum kafein dari sang ibu. Tidak ditemukan pula adanya hubungan antara indeks massa tubuh (BMI) si ibu dengan jenis kelamin anaknya.

Penemuan terbaru itu diterbitkan di jurnal Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences.

Namun, professor Stuart West, dari Edinburgh University, mengingatkan kaum perempuan untuk sangat berhati-hati jika menerapkan pola makan tertentu dalam usaha mempengaruhi jenis kelamin bayi dalam kandungan.

Dia menyatakan penelitian-penelitian serupa yang dilakukan kepada hewan menunjukkan banyaknya variasi efek dari langkah tersebut, karena itu studi Mathews dan para koleganya masih harus didalami lebih lanjut.

“Mengubah pola makan akan berdampak pada kesehatan ibu dan anak,” katanya.

West mengemukakan, efek makanan terhadap jenis kelamin bayi seperti dalam penelitian itu sebenarnya relatif kecil.

Pernyataan West senada dengan Dr Allan Pacey, ahli kesuburan dari University of Sheffield.

“Saya mengimbau kaum perempuan jangan mencoba sengaja membuat dirinya kelaparan untuk mempengaruhi jenis kelamin bayinya,” kata Pacey.

“Sudah terbukti bahwa perubahan kecil dalam pola makan dapat berdampak panjang pada hidup keturunannya, jadi sangat penting bahwa seorang ibu makan gizi yang cukup saat pembuahan dan selama kehamilan.” (*)