Pesona Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air di barat laut Lombok

July 22, 2009

Perjalanan ke Lombok, tidak lengkap rasanya jika tidak mengunjungi obyek wisata 3 pulau eksotis di barat laut Pulau Lombok. Tiga pulau yaitu, Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno, member sajian keindahan pantai pasir putih serta warna alam lain yang sangat tajam nan memikat, seperti kejernihan laut, terumbu karang dan biota laut, serta keberagaman makhluk hidup yang tak kalah mempesona. Obyek wisata ini tak jauh ke utara dari pantai senggigi, hanya beberapa km menuju pasar dan simpang Pemenang, kemudian ambil jalur ke kiri atau kearah barat Kita sudah sampai ke labuhan tempat perahu- perahu dapat membawa ke tiga pulau tersebut. Dari simpang pemenang, perjalanan sebenarnya dapat dilalui dengan jalan kaki, karena sangat dekat, namun jika ingin menikmati sarana transportasi yang tak kalah memikat, terdapat jasa sejenis delman yang siap mengantar anda ke dermaga perahu dengan dua ribu rupiah saja.

Setelah sampai di dermaga, anda dapat langsung mempertimbangkan paket – paket yang telah disediakan untuk dapat menikmati keindahan gili. Kami mendapatkan kenalan sewaktu sebelumnya di Rinjani, dia mengantarkan rombongan kami dan memberikan paket kenalan seharga Rp75000. Harga tersebut ditutupi dengan kepuasan menikmati tiga pulau, mengelilingi tiga pulau tersebut dengan perahu, serta berenang merasakan  perbedaan arus laut di sekitar ketiga pulau ini. Kami juga diberi kesempatan snorkeling menikmati keindahan terumbu karang, memberi makan ikan hias, penyu, serta berfoto dipantai sepuasnya. Sebenarnya tidak puas kalau menikmati keindahan tiga pulau cantik ini hanya dengan satu hari saja. Oleh karena itu banyak disediakan cottage, penginapan, dan café di ketiga pulau ini. Kebanyakan dari para wisatawan yang singgah dan menginap merupakan wisatawan asing. Maka tak heran, jika sebagian pengelola cottage, café, dan sebagainya, hamper tiap malam mengadakan party khas yang memanjakan para wisatawan asing. Tapi jangan khawatir, harga lumayan lokal, asalkan bisa mencar dan memilih.

Keindahan panorama yang alami dan boleh dikatakan elegan , menjadikan objek wisata ini teramat sayang untuk dilewatkan. Belum lagi budget yang terbilang murah jika dibandingkan dengan budget untuk objek wisata dan fasilitas di pulau sebelah barat Lombok yang lebih dulu mendunia.

Visit Lombok and beauty Gili………………………..SDC10731

Saran : Jika hanya merencanakan sehari berkunjung, usahakan tiba di dermaga pagi hari sekali, agar cukup puas menikmati, dikarenakan perahu dari Gili menuju dermaga tersedia hanya sampai pukul 4 sampai dengan  5 sore.

Lombok, Juni 2009


Analogi Gila (classic view)

October 18, 2008

Aku menikmati rasa baru ini. Mari kita bersama pejamkan mata dan rasakan… sudah?? Malam itu akan ada training pengembangan diri. Ada yang mengejar damri terakhir, menyusuri jalan setapak, mengejar makan malam murah edisi terbatas, menyimpan tenaga hibernasi sejenak, bengong, browsing, tilawah, chatting, baca, chatting, bcanda , n chatting lagi. Pengorbanan mereka pun tidak sia- sia, sang Trainer memberikan kunci kedewasaan. “Bahwa benar lingkungan membentuk kepribadian namun berlaku dengan syarat pribadi manusia tersebut masih belum dewasa. Keadaan tersebut menjadi tidak berlaku ketika manusia dewasa, sehingga kepribadian adalah segala pilihan yang diambil dan diri sendiri berhak menentukan pribadi seperti apa yang diinginkan seorang manusia dewasa, Itulah ciri kedewasaan” . Maka mereka tertidur tanpa sempat memikirkan sekilas maksud dari susunan kata yang terdengar indah barusan.

Mereka terbangun dan ternyata telah pagi. Segera mereka berkemas tanpa mandi, Berusaha membuat hari ini lebih baik dari sebelumnya, mencari esensi dan makna hidup yang mungkin lebih rumit daripada mencari sandal/ sepatu yang hilang. Berlarilah, angkot penuh, Segera temukan dan taruh esensi itu digenggaman tangan kalian. Pegang erat, karena di depan telah tercium busuknya dunia yang melebihi bau sebulan rendaman pakaian kotor kalian. Ingatkan pula teman kalian untuk membantu mengembalikan esensi itu, jika suatu saat terjatuh dari genggaman kalian. Karena disegala penjuru hidup Kita, sudah menunggu manusia berjiwa tikus yang lebih garang dari tikus peliharaan di pekarangan. Kita punya mimpi, cita- cita, dan idealisme yang harus kita tanam bersama di halaman rumah. Tebarkan benihnya, lalu kita pagari dengan jiwa raga kita bersama. Membentuk kesatuan pagar yang kuat, menjaga dari injakan kaki tak bertanggung jawab pada apa yang telah kita dan para pendahulu tanam, serta dari segala perilaku yang merusak halaman rumah ini.

Pagar yang menyatu kuat tentu akan rapuh setelah menahan beribu hujaman, dan akan membusuk dimakan usia. Satu persatu kita akan pergi dan satu persatu pagar tersebut hilang. Namun semoga idealisme itu tumbuh hijau di halaman rumah kita, bersemi serta berbuah manis. Sehingga jiwa- jiwa Befie, Bofie, Buffi, bangga menjadi bagian dari kalian. Mereka tersenyum karena raganya telah member nutrisi untuk suburnya halaman rumah kita. Ya jaga idealisme ini dengan pagar- pagar semangat. Demi rumah Kita , Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.


Dibakar Boleh, Disimpan Jangan

August 6, 2008

Analogi Gila ver1.1

July 13, 2008

Pesisir Pantai,  irama  angin  dan gemuruh ombak laut selatan

Apakah pernah Kau rasakan,

ternyata tidak sesunyi dan semistis yang terbayangkan, walau malam sekalipun

Ya, malam di pantai adalah siang,

Kalau dilihat dari aktifitas yang terjadi, nelayan yang berangkat melaut, kuli panggul yang menunggu tiap perahu yang merapat di dermaga, dan pemborong yang berlomba- lomba ikut pelelangan ikan.

Lalu dimana ada kesunyian, ya, dihati mereka yang menghayati hidup. Nelayan, Kuli panggul, dan manusia yang menjadi bagian dari alam. Jadi bukan hanya mencoba memasuki irama atau siklus alam untuk menemukan kesunyian, bisa jadi malah didapat keseraman atau kesuraman. Analogi yang aneh !!

Pantai Laut Selatan (Prigi) , 3 Juli 2007


Analogi Gila

July 10, 2008

Jika terpikirkan, cinta memang punya stimulus dan selera. Menembus kulit dengan tiba- tiba, menyakitkan, indah. Itu hanya soal respon dari indra kita. Itu juga bila dan hanya bila terpikirkan.

Tetapi saat ini diriku menemukan analogi yang tepat, mungkin, tentang salah satu varian dari definisi cinta. Tetapi mungkin hanya berlaku disini, di tempat ini, pada momentum yang menunjukkan kekinian dan kedisinian.

Tiba- tiba terlintas pikiran bahwa Kita selalu punya cinta dan berhak menyemai cinta. Namun terkadang cinta tidak dapat terpetik, kita simpan dan kita bawa.

Cinta hanya bisa kita sapa dan kita ciumi wanginya. Seperti bunga Edelweis di padang surya Kencana ini, kita suka, namun tak dapat diambil dan miliki.

Ah bisa kita miliki, justru dengan membiarkan bunga itu tumbuh tanpa harus kita petik lalu dibawa pulang.

itu berarti kita memiliki cinta. Ah, berarti membiarkan dia bahagia, bersanding dengan ranting yang menjadi sandaran hidupnya, berarti juga pertanda cinta. Jika memang benar begitu, maka biarkanlah dia bahagia,jangan mengusik irama hidupnya.

Karena cinta tak harus memiliki.

SuryaKencana, Juli 2007

(penyelamatan arsip)


“Orang Pintar” vs Dokter Korea

July 10, 2008

Beberapa waktu lalu, ada hal yang menarik saat melakukan perjalanan ke Jogja (Jogja.. Jogja…). Alkisah, ada seorang pemuda masih kerabat (jauh), berumur duapuluhan akhir yang mencoba merantau ke negeri gingseng Korea. Baru beberapa hari bekerja di sebuah perusahaan industry, pemuda tersebut mengalami sakit aneh. Ketika bekerja, tiba- tiba di beberapa bagian tubuhnya seperti terserang stroke (gejalanya mirip stroke). Pemuda tersebut dibawa ke Rumah Sakit, namun setelah menjalani pemeriksaan menyeluruh, dokter Korea tidak menemukan adanya gejala- gejala keanehan. Setelah tubuhnya kembali normal, pemuda tersebut memutuskan bekerja kembali. Namun baru satu hari masuk kerja, pada hari itu juga penyakitnya kambuh lagi, dan dibawa ke RS, diperiksa dan dokter tak menemukan ada sesuatu yang ganjil. Hal tersebut berulang beberapa kali sampai akhirnya pihak Perusahaan penyalur tidak mau menanggung biaya berobat karena teramat merugikan mereka. Akhirnya Pemuda tersebut memutuskan pulang ke kampong halaman, dengan gejala yang masih sering kambuh. Setibanya di kampung halaman, keluarga si Pemuda menyarankan agar si pemuda pergi ke “Orang Pintar “. Mungkin karena sugesti atau apalah, akhirnya pemuda kembali normal. Ataukah mungkin penyakit yang berasal dari lokasi berbeda sehingga tidak pernah ada di Korea (setahu saya syndrome dan penyakit aneh, kerap muncul di negara- negara empat musim) ??

Di tempat yang berdekatan, terdapat seorang Bapak yang mengalami penyakit aneh, sering keluar cairan hijau terkadang pekat, dari pori- pori di kepalanya. Badannya demam, menggigil dan panas dingin. Setelah Rumah Sakit tak juga menemukan obat yang manjur, bahkan Dokter sendiri tidak mengetahui si Bapak mengidap penyakit apa, maka si Bapak memutuskan pergi ke Orang Pintar. Akhirnya si Bapak sembuh, karena Orang Pintar tadi mengetahui bahwa si Bapak sakit karena kepalanya terciprat (terkena sisa- sisa) bisa ular kemudian diberikan obat tradisional.

Saya tidak mengangkat kesaktian atau mitos yang mengarah pada kesyirikan dan sebagainya. Tidak pula mengarahkan topik bacaan ini agar tersimpulkan hal persuatif kepada dukun, Orang pintar, Paranormal yang lebih baik daripada Dokter dan sebagainya. Bukan statement seperti itu yang dimaksud. Yang menarik bagi saya adalah mungkin Orang Pintar memiliki pengalaman lebih, yang secara turun temurun diwariskan, bukan hanya sekedar penurunan teori. Kalau soal pengalaman mungkin saja Orang Pintar dari Indonesia lebih berpengalaman daripada Dokter Korea sekalipun. Jadi mungkin saja jika kita dapat mengekspor Orang Pintar ke mancanegara. Entah harus bersyukur atau tidak ?