Peran

March 4, 2009

Ketika Sang Raja terbangun, Sang Raja ingin melihat pementasan sandiwara . Peran apa yang sedang marak diperbincangkan pada zaman ini, saat Sang Raja terbangun.

Peran pangeran bersajak melayu yang merindukan belahan hati di seberang pulaukah ?

Atau peran raksasa penculik balita diwaktu purnama

Tapi firasat Sang Raja lebih membenarkan bahwa kemungkinan terbesar peran yang sedang digandrungi di zaman Sang Raja tebangun ini, adalah peran kura- kura dalam bingkai fabel penuh nasehat hidup

Maka Sang Raja bergegas memutar mata demi mencari panggung penuh keramaian dan menemukan lingkaran permukiman

Di pusat lingkaran Sang Raja melihat cahaya, Sang Raja bergegas mendekat, terlihat panggung penuh sesak dengan aktor rapih ber wibawa, sesaat Sang Raja mendekat, lebih dekat,  ada adegan pertengkaran, perkelahian, saling ejek, dan adegan dewasa…

Sang Raja mulai bisa menerka sebagian peran, ada peran Si Tukang Tidur,  Si Mulut Tak Halus, Si Pemarah……. dan, semakin tertarik dengan peran yang ada, Sang Raja mencoba mengintip ke belakang layar,   melalui lubang di tirai layar, Sang Raja melihat penonton lebih ramai namun hening, yang ternyata menonton dibalik layar sambil terus menerus melemparkan kertas –kertas dan bungkusan rapih ke panggung ini.

Tapi, Sang Raja tak kenal tema sandiwara ini, dan terlintas pikiran Sang Raja, sebegitu jauhkah Sang Raja terpisah dengan zamannya, atau ini sudah jauh dari wilayah Sang Raja….  Sang Raja akhirnya tak menghiraukan panggung ini, dan bergegas mencari panggung lain dipinggiran lingkaran.

Dan ternyata semakin banyak panggung di pinggi lingkaran, satu panggung menyajikan adegan perdebatan sepertinya, Sang Raja bertanya, apa panggilan peran yang saling berdebat, sebagian penonton menjawab bahwa peran yang sedang tampil ini adalah peran pujaan dengan panutan, mereka sedang berdebat masalah aurat

Masuk ke babak berikutnya dalam panggung yang sama, ada adegan perang urat syaraf suami istri yang ingin bercerai, tarik- menarik anak sendiri, Sang Raja tersendak menahan tawa

Ketika melihat sekeliling, Sang Raja terheran mengapa banyak sekali panggung berdiri berdekatan,

Lebih ke pinggir lingkaran, Sang Raja melihat panggung yang tergenang cairan merah, Sang Raja mendekat, dan mencium anyir darah, oh terlihat para pemeran saling hantam, bunuh, adegan perang, pembantaian, dan kematian, semua bercampur tangisan,

Sang Raja semakin ngeri saat Para Pemeran menuju kearah penonton dan memberi juga mereka peran sebagai korban, penonton ketakutan sampai kurus, lemas, tak sanggup makan bahkan bernapas sekalipun.

Sang Raja tersendak  menahan tangis dan berlari menjauh…………………………………………………………………..

Sang Raja berlari hingga ke pinggir lingkaran, yang ternyata juga merupakan panggung yang melingkar membentuk pembantas bak benteng pelindung.

Sang Raja menaiki panggung ini, berjalan dan terus berjalan sepanjang panggung, terihat hanya ada tokoh – tokoh  berjubah, peran apa, Sang Raja tak bisa menerka,

Peran apakah ini, semakin pusing namun semakin penasaran, Sang Raja mendakati salah satu tokoh, Sang Raja menanyakan pada tokoh itu, sedang berperan sebagai apakah dia,

Dia hanya tersenyum dan membuka jubahnya, kemudian yang Sang Raja melihat sekujur  tubuh yang ditutupi oleh bermacam- macam topeng peran.

Sang Raja keluar dari lingkaran itu dengan pikiran kacau, kemudian mencoba sekuat tenaga untuk tertidur kembali.

( ingin sunyi di tempat ini)

Bandung, 1 Maret 2009


Berpikir Ada

March 1, 2009

Mereka berpikir , maka mereka ada
Tanpa pikiran, Hilang rangkaian kata, Hilang semangat juang
Bahkan hilang air mata

 

Mereka
Induktif,
mencari,
Terjebak pacuan zaman
Berpelana Keragu- raguan
Ah, sebagian terengah- engah, dipenuhi penyesalan,
Mulai ku lihat bercak tangis, tawa, putus asa

 

Mereka terus bertanya
Dan aku……
bertanya kapan ku akan mulai bertanya


Istirahat Sejenak (Sebuah kisah)

October 19, 2008

Bau busuk selalu ada pagi, siang malam. Orang sering berkata bahwa udara pagi itu segar dan sehat. Tapi tidak disini, Obet merasakan sesuatu yang berbeda. Pagi hari lebih dingin memang, tapi hidung Obet tidak pernah merasakan segarnya udara pagi di tempat pembuangan sampah akhir ini. Baginya, perkataan banyak orang itu hanya kebohongan agar semua manusia bangun pagi. Hidung Obet telah merasakan aroma sampah sejak 11 tahun lalu, saat dia lahir. Bisa jadi tangisan pertamanya bukan karena haus atau yang lainnya, tapi karena bau busuk sampah. Pagi itu Obet mengais sampah dengan temannya Nurdin. “Ayo, pagi- pagi begini, truk sampah sudah banyak yang datang!” Seru Nurdin lantang sampai- sampai tukang nasi uduk dibuat kaget. “Tunggu dulu, keranjangku jebol ”, Read the rest of this entry »


Antara Sampah, Aku, dan Cinta Kita

October 19, 2008

Menjadi bagian dari Bumi

Perhatian Kita saat ini sering tertuju pada kebutuhan akan energi serta kekhawatiran atas kelangkaan sumber- sumber energi. Betapa tidak, sumber energi yang selama ini menjadi titik tumpu kehidupan, semakin bernilai tinggi, dikarenakan keterbatasan dalam jumlah dan penyediaan. Kebutuhan akan energi adalah sebuah keniscayaan yang akan terus meningkat seiring dengan laju pertambahan jumlah manusia. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka akan sulit melakukan pilihan selain meningkatkan eksploitasi sumber energi tak terbarukan yang selama ini menjadi sumber utama bangsa dalam memenuhi kebutuhan energi masyarakat. Eksplorasi, eksploitasi dan konsumsi sumber energi pun terus ditingkatkan, walaupun telah diketahui memberikan dampak besar dalam menentukan penurunan kualitas bumi selama ini. Akibat dari proses eksploitasi yang berlangsung terus menerus ,wajar jika akan semakin langka sumber energi yang ada. Produksi sumber energi khususnya energi minyak bangsa ini, terus mengalami penurunan. Tentunya akan semakin besar pula permasalahan yang berpengaruh pada kualitas lingkungan serta ekosistem bumi. Kita pada akhinya, menjadi semakin merasakan betapa berharganya sumber energi. Read the rest of this entry »


Analogi Gila (classic view)

October 18, 2008

Aku menikmati rasa baru ini. Mari kita bersama pejamkan mata dan rasakan… sudah?? Malam itu akan ada training pengembangan diri. Ada yang mengejar damri terakhir, menyusuri jalan setapak, mengejar makan malam murah edisi terbatas, menyimpan tenaga hibernasi sejenak, bengong, browsing, tilawah, chatting, baca, chatting, bcanda , n chatting lagi. Pengorbanan mereka pun tidak sia- sia, sang Trainer memberikan kunci kedewasaan. “Bahwa benar lingkungan membentuk kepribadian namun berlaku dengan syarat pribadi manusia tersebut masih belum dewasa. Keadaan tersebut menjadi tidak berlaku ketika manusia dewasa, sehingga kepribadian adalah segala pilihan yang diambil dan diri sendiri berhak menentukan pribadi seperti apa yang diinginkan seorang manusia dewasa, Itulah ciri kedewasaan” . Maka mereka tertidur tanpa sempat memikirkan sekilas maksud dari susunan kata yang terdengar indah barusan.

Mereka terbangun dan ternyata telah pagi. Segera mereka berkemas tanpa mandi, Berusaha membuat hari ini lebih baik dari sebelumnya, mencari esensi dan makna hidup yang mungkin lebih rumit daripada mencari sandal/ sepatu yang hilang. Berlarilah, angkot penuh, Segera temukan dan taruh esensi itu digenggaman tangan kalian. Pegang erat, karena di depan telah tercium busuknya dunia yang melebihi bau sebulan rendaman pakaian kotor kalian. Ingatkan pula teman kalian untuk membantu mengembalikan esensi itu, jika suatu saat terjatuh dari genggaman kalian. Karena disegala penjuru hidup Kita, sudah menunggu manusia berjiwa tikus yang lebih garang dari tikus peliharaan di pekarangan. Kita punya mimpi, cita- cita, dan idealisme yang harus kita tanam bersama di halaman rumah. Tebarkan benihnya, lalu kita pagari dengan jiwa raga kita bersama. Membentuk kesatuan pagar yang kuat, menjaga dari injakan kaki tak bertanggung jawab pada apa yang telah kita dan para pendahulu tanam, serta dari segala perilaku yang merusak halaman rumah ini.

Pagar yang menyatu kuat tentu akan rapuh setelah menahan beribu hujaman, dan akan membusuk dimakan usia. Satu persatu kita akan pergi dan satu persatu pagar tersebut hilang. Namun semoga idealisme itu tumbuh hijau di halaman rumah kita, bersemi serta berbuah manis. Sehingga jiwa- jiwa Befie, Bofie, Buffi, bangga menjadi bagian dari kalian. Mereka tersenyum karena raganya telah member nutrisi untuk suburnya halaman rumah kita. Ya jaga idealisme ini dengan pagar- pagar semangat. Demi rumah Kita , Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.


Dibakar Boleh, Disimpan Jangan

August 6, 2008