Teratai (Sanusi Pane)

October 27, 2009

Dalam kebun di tanah airku

Tumbuh sekuntum bunga teratai

Tersembunyi kembang indah permai

Tidak terlihat orang yang lalu

Akarnya tumbuh di hati dunia

Daun berseri Laksmi mengarang

Biarpun ia diabaikan orang

Seroja kembang gemilang mulia

Teruslah, O Teratai Bahagia

Berseri di kebun Indonesia

Biar sedikit penjaga taman

Biarpun engkau tidak dilihat

Biarpun engkau tidak diminat

Engkau turut menjaga Zaman

 

(Sanusi Pane)

Thanks,


Ketika Salman al-Farisi Melamar Wanita Anshar

September 15, 2009

Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abu Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasa dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.

Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan.. Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis.

Sumber: Salim A Fillah. Jalan Cinta Para Pejuang. 2008. Yogyakarta: Pro-U Media

dan http://faisalman.wordpress.com

Rinjani

Rinjani


Pesona Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air di barat laut Lombok

July 22, 2009

Perjalanan ke Lombok, tidak lengkap rasanya jika tidak mengunjungi obyek wisata 3 pulau eksotis di barat laut Pulau Lombok. Tiga pulau yaitu, Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno, member sajian keindahan pantai pasir putih serta warna alam lain yang sangat tajam nan memikat, seperti kejernihan laut, terumbu karang dan biota laut, serta keberagaman makhluk hidup yang tak kalah mempesona. Obyek wisata ini tak jauh ke utara dari pantai senggigi, hanya beberapa km menuju pasar dan simpang Pemenang, kemudian ambil jalur ke kiri atau kearah barat Kita sudah sampai ke labuhan tempat perahu- perahu dapat membawa ke tiga pulau tersebut. Dari simpang pemenang, perjalanan sebenarnya dapat dilalui dengan jalan kaki, karena sangat dekat, namun jika ingin menikmati sarana transportasi yang tak kalah memikat, terdapat jasa sejenis delman yang siap mengantar anda ke dermaga perahu dengan dua ribu rupiah saja.

Setelah sampai di dermaga, anda dapat langsung mempertimbangkan paket – paket yang telah disediakan untuk dapat menikmati keindahan gili. Kami mendapatkan kenalan sewaktu sebelumnya di Rinjani, dia mengantarkan rombongan kami dan memberikan paket kenalan seharga Rp75000. Harga tersebut ditutupi dengan kepuasan menikmati tiga pulau, mengelilingi tiga pulau tersebut dengan perahu, serta berenang merasakan  perbedaan arus laut di sekitar ketiga pulau ini. Kami juga diberi kesempatan snorkeling menikmati keindahan terumbu karang, memberi makan ikan hias, penyu, serta berfoto dipantai sepuasnya. Sebenarnya tidak puas kalau menikmati keindahan tiga pulau cantik ini hanya dengan satu hari saja. Oleh karena itu banyak disediakan cottage, penginapan, dan café di ketiga pulau ini. Kebanyakan dari para wisatawan yang singgah dan menginap merupakan wisatawan asing. Maka tak heran, jika sebagian pengelola cottage, café, dan sebagainya, hamper tiap malam mengadakan party khas yang memanjakan para wisatawan asing. Tapi jangan khawatir, harga lumayan lokal, asalkan bisa mencar dan memilih.

Keindahan panorama yang alami dan boleh dikatakan elegan , menjadikan objek wisata ini teramat sayang untuk dilewatkan. Belum lagi budget yang terbilang murah jika dibandingkan dengan budget untuk objek wisata dan fasilitas di pulau sebelah barat Lombok yang lebih dulu mendunia.

Visit Lombok and beauty Gili………………………..SDC10731

Saran : Jika hanya merencanakan sehari berkunjung, usahakan tiba di dermaga pagi hari sekali, agar cukup puas menikmati, dikarenakan perahu dari Gili menuju dermaga tersedia hanya sampai pukul 4 sampai dengan  5 sore.

Lombok, Juni 2009


Antara Lombok dan KCB

July 22, 2009

Seperti kata orang bijak dan para trainer program pengembangan diri, “Mimpi itu harus dikejar selagi masih punya kesempatan”. Mimpi lama yang belum kesampaian, dikejar pas ada kesempatan. Untuk mengejar mimpi, diperlukan persiapan matang juga briefing yang rapih. Maka dimulailah briefing itu

15/6/2009 7.20 PM

SDC10045

C                             : jreng….jeng….(suara ditekan seperti mau melahirkan)“ kuambil gitar ,,. Dan mulai memainkan                                                      ……..%##$%”.

Eh jadi briefing Lombok ngga nih, belum pada dateng, habis magrib kan janjiannya,.

Oknum                : Kirain aku yang paling telat nyampe sini

C                             : eh temen- temen, si G sms nih, dia izin ga bisa dateng, nonton bioskop…..

Oknum                 : #%@$##!!!

A                            : tah vava…!

A                            : Nonton apaan dia, KCB?

C                            : Kayaknya , ntar aku tanyain dlu

Oknum                : Eh, btw, nonton aja yuu! (tidak serius)

A                           : Mau nonton (serius)

C                            : si G nonton KCB, ktanya blom penuh, di Breigei dia nontonnya, aku mau nonton… (sangat serius)

Oknum                : Nonton nih, yaudah kasih tau yang lain, kita mau nonton, briefing Lombok-nya besok aja pas mau         berangkat….(kacau mode on)

C               : Yaudah, aku sms-in yang lain ya….(semangat membara!)

Di perjalanan ke Breigei……

C                                 : Eh, yang lain juga mau nonton, suruh langsung ke TKP aja ya!

Oknum                     : yoi2…(terlintas di benaknya, wah gimana kalau briefingnya di sana)

Di Breigei, tiket masih tersedia banyak, ketemuan sebagian besar peserta yang tadinya mau briefing, technical meeting 2 menit, akhirnya tercapai kata sepakat,

“ Agar pekerjaan yang dilakukan terfokus dan arahnya jelas, Briefing Lombok diundur besok saja, sekarang fokus nonton KCB dulu “

“Akhirnya KCB menambah panjang daftar mimpi mereka dan membuat briefing lebih jauh tentang masa depan ”


Peran

March 4, 2009

Ketika Sang Raja terbangun, Sang Raja ingin melihat pementasan sandiwara . Peran apa yang sedang marak diperbincangkan pada zaman ini, saat Sang Raja terbangun.

Peran pangeran bersajak melayu yang merindukan belahan hati di seberang pulaukah ?

Atau peran raksasa penculik balita diwaktu purnama

Tapi firasat Sang Raja lebih membenarkan bahwa kemungkinan terbesar peran yang sedang digandrungi di zaman Sang Raja tebangun ini, adalah peran kura- kura dalam bingkai fabel penuh nasehat hidup

Maka Sang Raja bergegas memutar mata demi mencari panggung penuh keramaian dan menemukan lingkaran permukiman

Di pusat lingkaran Sang Raja melihat cahaya, Sang Raja bergegas mendekat, terlihat panggung penuh sesak dengan aktor rapih ber wibawa, sesaat Sang Raja mendekat, lebih dekat,  ada adegan pertengkaran, perkelahian, saling ejek, dan adegan dewasa…

Sang Raja mulai bisa menerka sebagian peran, ada peran Si Tukang Tidur,  Si Mulut Tak Halus, Si Pemarah……. dan, semakin tertarik dengan peran yang ada, Sang Raja mencoba mengintip ke belakang layar,   melalui lubang di tirai layar, Sang Raja melihat penonton lebih ramai namun hening, yang ternyata menonton dibalik layar sambil terus menerus melemparkan kertas –kertas dan bungkusan rapih ke panggung ini.

Tapi, Sang Raja tak kenal tema sandiwara ini, dan terlintas pikiran Sang Raja, sebegitu jauhkah Sang Raja terpisah dengan zamannya, atau ini sudah jauh dari wilayah Sang Raja….  Sang Raja akhirnya tak menghiraukan panggung ini, dan bergegas mencari panggung lain dipinggiran lingkaran.

Dan ternyata semakin banyak panggung di pinggi lingkaran, satu panggung menyajikan adegan perdebatan sepertinya, Sang Raja bertanya, apa panggilan peran yang saling berdebat, sebagian penonton menjawab bahwa peran yang sedang tampil ini adalah peran pujaan dengan panutan, mereka sedang berdebat masalah aurat

Masuk ke babak berikutnya dalam panggung yang sama, ada adegan perang urat syaraf suami istri yang ingin bercerai, tarik- menarik anak sendiri, Sang Raja tersendak menahan tawa

Ketika melihat sekeliling, Sang Raja terheran mengapa banyak sekali panggung berdiri berdekatan,

Lebih ke pinggir lingkaran, Sang Raja melihat panggung yang tergenang cairan merah, Sang Raja mendekat, dan mencium anyir darah, oh terlihat para pemeran saling hantam, bunuh, adegan perang, pembantaian, dan kematian, semua bercampur tangisan,

Sang Raja semakin ngeri saat Para Pemeran menuju kearah penonton dan memberi juga mereka peran sebagai korban, penonton ketakutan sampai kurus, lemas, tak sanggup makan bahkan bernapas sekalipun.

Sang Raja tersendak  menahan tangis dan berlari menjauh…………………………………………………………………..

Sang Raja berlari hingga ke pinggir lingkaran, yang ternyata juga merupakan panggung yang melingkar membentuk pembantas bak benteng pelindung.

Sang Raja menaiki panggung ini, berjalan dan terus berjalan sepanjang panggung, terihat hanya ada tokoh – tokoh  berjubah, peran apa, Sang Raja tak bisa menerka,

Peran apakah ini, semakin pusing namun semakin penasaran, Sang Raja mendakati salah satu tokoh, Sang Raja menanyakan pada tokoh itu, sedang berperan sebagai apakah dia,

Dia hanya tersenyum dan membuka jubahnya, kemudian yang Sang Raja melihat sekujur  tubuh yang ditutupi oleh bermacam- macam topeng peran.

Sang Raja keluar dari lingkaran itu dengan pikiran kacau, kemudian mencoba sekuat tenaga untuk tertidur kembali.

( ingin sunyi di tempat ini)

Bandung, 1 Maret 2009


Berpikir Ada

March 1, 2009

Mereka berpikir , maka mereka ada
Tanpa pikiran, Hilang rangkaian kata, Hilang semangat juang
Bahkan hilang air mata

 

Mereka
Induktif,
mencari,
Terjebak pacuan zaman
Berpelana Keragu- raguan
Ah, sebagian terengah- engah, dipenuhi penyesalan,
Mulai ku lihat bercak tangis, tawa, putus asa

 

Mereka terus bertanya
Dan aku……
bertanya kapan ku akan mulai bertanya